Histori: Drone Houthi Serang Kilang Minyak Saudi Aramco

Dua fasilitas utama produksi minyak mentah milik Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais diserang oleh sejumlah pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/drone/UAV) pada 14 September 2019. Peristiwa itu mengakibatkan kebakaran hebat, mengganggu kegiatan produksi sekitar 5-7 juta barel per hari, atau mendekati setengah dari hasil produksi, atau 5 persen dari pasokan minyak global. Fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq adalah pabrik minyak mentah terbesar di dunia yang sanggup mengolah sekitar 7 juta barel sour crude oil menjadi sweet crude oil, kemudian diangkut ke lokasi-lokasi pengiriman barang atau kontainer di teluk dan Laut Merah. Saudi Aramco mengakui fasilitas Khurais memiliki cadangan minyak lebih dari 20 miliar barel.

“Saudi Aramco bukan perusahaan biasa, tetapi perusahaan strategis yang menjadi tulang punggung negara.”

Osama Bin Javaid dari Al Jazeera

Conflict Armament Research (CAR) membandingkan reruntuhan UAV di lokasi kejadian dengan serpihan peledak yang sudah diimprovisasi (improvised explosive device) atau IED yang ditemukan di Yaman. Hasilnya adalah identik, artinya reruntuhan tersebut berasal dari Iran, atau dari wilayah yang terhubung ke jaringan pemasok peralatan yang didukung Iran. Hasil investigasi CAR lainnya menyatakan sistem rudal Patriot buatan Amerika Serikat yang dilengkapi radar gagal mendeteksi ancaman pesawat tanpa awak tersebut, sehingga memungkinkan lawan menembakkan rudal balistik ke arah target tanpa hambatan.

Samaan & Barracks (2015) menyatakan kelompok Houthi kerap menyerang sejumlah infrastruktur militer dan energi milik koalisi yang dipimpin Arab Saudi, bahkan masyarakat sipil, menggunakan rudal dan UAV. Houthi dikabarkan menembakkan satu serangan rudal hampir setiap minggu pada tahun 2018. Houthi mengulang strategi efektif Hezbollah di Lebanon Selatan selama periode 1992-2000 untuk menghadapi superioritas angkatan bersenjata konvensional.

Sebuah citra satelit yang memperlihatkan fasilitas pemrosesan minyak Saudi Aramco mengalami kebakaran hebat setelah diserang pesawat tanpa awak (UAV) pada 14 September 2019. Fasilitas ini terletak di Abqaiq di Buqyaq, Arab Saudi. Foto: © Planet Labs.
© Euronews

Krisis yang sudah bergejolak sejak satu dekade lalu menyebabkan Yaman menjadi medan perang kepentingan regional. Negara-negara Arab telah gagal menangani krisis tersebut (Munteanu, 2015). Congressional Research Service (2020) menjelaskan ada empat kelompok utama yang terlibat dalam konflik Yaman. Pertama, Pemerintah Republik Yaman yang diakui oleh dunia internasional dan koalisi yang dipimpin Saudi sejak 2015. Abdu Rabbu adalah presiden sementara yang telah memimpin sejak tahun 2012. Beliau menggantikan Presiden Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun. Kedua, pasukan gerakan Houthi atau Ansar Allah merupakan kelompok Syiah Zaydi di bawah kepemimpinan anggota keluarga Houthi yang mengusung gerakan revivalis politik dan tinggal di wilayah provinsi Sa’dah di Yaman utara. Houthi adalah kelompok yang paling menonjol dan menyebabkan banyak masalah keamanan di Arab Saudi. Kelompok ini adalah sekutu mantan Presiden Ali Abdullah Saleh hingga 2017. Ketiga, Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) telah beroperasi di Yaman sejak tahun 2009. AQAP mengambil alih dan menguasai sejumlah wilayah di sepanjang pantai Yaman bagian selatan karena mendapat dukungan dari beberapa suku pedalaman. Keempat, Dewan Transisi Selatan (STC) dipimpin oleh Jenderal Yaman Aidarous al Zubaidi, mantan Gubernur Aden. Pasukan separatis STC didukung Uni Emirat Arab sejak musim semi 2017 dan mengendalikan ibukota sementara Yaman, Aden, sejak 2019.

Serangan di Abqaiq dan Khurais adalah dampak dari transformasi cepat Houthi dari kelompok pemberontak lokal menjelma menjadi aktor non-negara yang sanggup melawan kekuatan regional. Sharp (2020) menyatakan transformasi tersebut dapat terwujud karena adanya transfer pengetahuan dan dukungan militer dari Iran ke Houthi, sehingga kemampuan mengancam Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya meningkat pesat. Pakar PBB untuk Yaman menjelaskan bahwa Houthi menerima senapan serbu, peluncur granat berpeluncur roket, rudal berpeluncur anti-tank dan sistem rudal jelajah yang lebih canggih dengan karakteristik teknis yang identik dengan senjata yang diproduksi Iran.


Sumber:
Houthi drone attacks on 2 Saudi Aramco oil facilities spark fires
https://www.aljazeera.com/news/2019/09/drones-hit-saudi-aramco-facilities-fires-190914051900472.html

Saudi Arabia says drone attacks knocked out half its oil supply
https://thearabweekly.com/saudi-arabia-says-drone-attacks-knocked-out-half-its-oil-supply

Saudi Aramco attack drone components linked to Iran and Houthis in Yemen
https://www.arabnews.com/node/1630211/middle-east

Patriot Missile Batteries Under Fire For Missing Yemeni Drones
https://www.defenseworld.net/news/25510/Patriot_Missile_Batteries_Under_Fire_For_Missing_Iranian_Drones#.XvG8ecdR02w

Răzvan Munteanu. Saudi Arabia, Iran and the Geopolitical Game In Yemen (November 2015)

Jeremy Sharp. Yemen: Civil War and Regional Intervention (April 2020).

Foto: Unsplash/Zbynek Burival

Published by

Agen Rahasia

Hobi menulis kisah intelijen. Writing intelligence stories as a hobby.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s